KUALITAS AIR JAKARTA MENGKHAWATIRKAN
22:58 Edit This 0 Comments »
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kualitas air di
wilayah DKI Jakarta sudah mengkhawatirkan. Pemantauan yang dilakukan Badan
Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) di lima wilayah pada 2004 menunjukkan,
baik air sungai maupun air tanah memiliki kandungan pencemar organik dan
anorganik tinggi. Akibatnya, air sungai dan air tanah di DKI Jakarta tidak
sesuai lagi dengan baku mutu peruntukannya yaitu air minum, perikanan, pertanian
dan usaha perkotaan lainnya.
Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan BPLHD Provinsi DKI Jakarta Daniel Abbas mengungkapkan tingginya tingkat pencemaran air di Jakarta terutama berasal dari limbah domestik, terutama yang berasal dari septic tank. "Data dari KLH menyebutkan pencemaran air 55 persen disebabkan limbah domestik yang ditandai dengan tingginya kandungan coliform dan fecal coli," kata Daniel saat menjadi pembicara dalam seminar Pengelolaan Limbah Cair di Kelapa Gading Jakarta, Selasa (12/10).
Daniel mengungkapkan, hasil pemantauan kualitas air tanah di 48 sumur yang tersebar di lima wilayah diketahui 63 persen diantaranya mengandung bakteri coliform dan 75 persennya mengandung fecal coli melebihi baku mutu. Di Jakarta Pusat misalnya, enam dari tujuh sumur yang dipantau memiliki kadar bakteri coliform sangat tinggi. Di Jakarta Selatan 58 persen dari sumur yang dipantau mengandung coliform dan 67 persen tercemar fecal coli.
Untuk wilayah Jakarta Barat tujuh dari sembilan sumur tercemar coliform dan fecal coli melebihi batas normal. Wilayah Jakarta Timur diketahui 45 persen sumur warga sudah tidak memenuhi baku mutu coliform dan 82 persen tidak memenuhi baku mutu fecal coli. Sedangkan di wilayah Jakarta Utara sumur yang mengandung bakteri coliform sangat tinggi mencapai 56 persen. Demikian juga dengan kandungan fecal coli tinggi ditemukakn di 67 persen sumur yang dipantau.
Hasil pantauan di 13 sungai yang melintasi wilayah Jakarta tidak jauh berbeda. Pemantauan BPLHD DKI Jakarta tahun 2004 di 66 lokasi yang tersebar di 13 sungai menunjukan seluruh lokasi tersebut tidak layak dijadikan sumber air minum. "Bahkan air itu tidak layak diguanakan untuk usaha pertanian maupun perikanan," katanya.
Lebih lanjuut dia mengungkapkan bagian hulu sungai Ciliwung yang biasa digunakan sebagai air baku air minum pun telah mengandung kadar BOD rata-rata 8,97 mg/L dan COD dengan kadar rata-rata 35,22 mg/L. Padahal baku mutu BOD 10 mg/L dan COD 20 mg/L.
Sebenarnya, menurut Daniel upaya mengatasi pencemaran air sudah dilakukan Pemda DKI namun hasilnya tak pernah memadai. Guru Besar Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir Herman Haeruman berpendapat, tidak pernah tuntasnya masalah lingkungan di Jakarta, termasuk banjir, kekeringan dan pencemaran disebabkan karena pemecahan masalah lebih banyak menggunakan pendekatan teknis. "Misalnya dengan membangun saluran buangan atau banjir kanal," katanya.
Menurut dia, pendekatan lain yang perlu dilakukan adalah pemindahan manusia untuk menjauhi sumber air. "Jauhkan pemukiman warga dari sungai," katanya. Hanya saja pendekatan ini memerlukan pemikiran dan pelaksanaan yang integratif antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. "Sense of crisis harus dibangun, mungkin Jakarta perlu dideklarasikan sebagai daerah bencana lingkungan kronis," ujarnya.
Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan BPLHD Provinsi DKI Jakarta Daniel Abbas mengungkapkan tingginya tingkat pencemaran air di Jakarta terutama berasal dari limbah domestik, terutama yang berasal dari septic tank. "Data dari KLH menyebutkan pencemaran air 55 persen disebabkan limbah domestik yang ditandai dengan tingginya kandungan coliform dan fecal coli," kata Daniel saat menjadi pembicara dalam seminar Pengelolaan Limbah Cair di Kelapa Gading Jakarta, Selasa (12/10).
Daniel mengungkapkan, hasil pemantauan kualitas air tanah di 48 sumur yang tersebar di lima wilayah diketahui 63 persen diantaranya mengandung bakteri coliform dan 75 persennya mengandung fecal coli melebihi baku mutu. Di Jakarta Pusat misalnya, enam dari tujuh sumur yang dipantau memiliki kadar bakteri coliform sangat tinggi. Di Jakarta Selatan 58 persen dari sumur yang dipantau mengandung coliform dan 67 persen tercemar fecal coli.
Untuk wilayah Jakarta Barat tujuh dari sembilan sumur tercemar coliform dan fecal coli melebihi batas normal. Wilayah Jakarta Timur diketahui 45 persen sumur warga sudah tidak memenuhi baku mutu coliform dan 82 persen tidak memenuhi baku mutu fecal coli. Sedangkan di wilayah Jakarta Utara sumur yang mengandung bakteri coliform sangat tinggi mencapai 56 persen. Demikian juga dengan kandungan fecal coli tinggi ditemukakn di 67 persen sumur yang dipantau.
Hasil pantauan di 13 sungai yang melintasi wilayah Jakarta tidak jauh berbeda. Pemantauan BPLHD DKI Jakarta tahun 2004 di 66 lokasi yang tersebar di 13 sungai menunjukan seluruh lokasi tersebut tidak layak dijadikan sumber air minum. "Bahkan air itu tidak layak diguanakan untuk usaha pertanian maupun perikanan," katanya.
Lebih lanjuut dia mengungkapkan bagian hulu sungai Ciliwung yang biasa digunakan sebagai air baku air minum pun telah mengandung kadar BOD rata-rata 8,97 mg/L dan COD dengan kadar rata-rata 35,22 mg/L. Padahal baku mutu BOD 10 mg/L dan COD 20 mg/L.
Sebenarnya, menurut Daniel upaya mengatasi pencemaran air sudah dilakukan Pemda DKI namun hasilnya tak pernah memadai. Guru Besar Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir Herman Haeruman berpendapat, tidak pernah tuntasnya masalah lingkungan di Jakarta, termasuk banjir, kekeringan dan pencemaran disebabkan karena pemecahan masalah lebih banyak menggunakan pendekatan teknis. "Misalnya dengan membangun saluran buangan atau banjir kanal," katanya.
Menurut dia, pendekatan lain yang perlu dilakukan adalah pemindahan manusia untuk menjauhi sumber air. "Jauhkan pemukiman warga dari sungai," katanya. Hanya saja pendekatan ini memerlukan pemikiran dan pelaksanaan yang integratif antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. "Sense of crisis harus dibangun, mungkin Jakarta perlu dideklarasikan sebagai daerah bencana lingkungan kronis," ujarnya.
0 comments:
Post a Comment