3 KERAJAAN BESAR

22:51 Posted In Edit This 0 Comments »
BAB I
PENDAHULUAN

A.         LATAR BELAKANG
Setelah khalifah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekukasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi dan menjatuhkan untuk  mendapatkan kekuasaan yang lebih luas lagi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Tentara Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk juga mengahancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain dan membakar habis ribuan buku ilmiah karya sarjana muslim.
Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya Tiga Kerajaan Besar Islam, yaitu Utsmani di Turki, Mughal di India, dan Syafawi di Persia. Kerajaan Utsmani, disamping yang pertama berdiri, juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.

B.       RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana sejarah tentang Kerajaan Utsmani di Turki?
2.      Bagaimana sejarah tentang Kerajaan Syafawi di Persia?
3.      Bagaimana sejarah tentang Kerajaan Mughal India?























BAB ll
PEMBAHASAN

A.   KERAJAAN UTSMANI  DI TURKI

a.         Sejarah Ringkas Timbulnya Kerajaan Utsmani
Pendiri kerajaan Usmani adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz[1] yang mendiami daerah Mongol dan daerah negeri Cina. Setelah tiga abad mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad ke sembilan atau ke sepuluh. Di Asia tenggara mereka mendapat tekanan serangan Mongol selanjutnya melarikan diri ke daerah Barat, saudara mereka orang-orang Turki Seljuk, daratan tinggi Asia Kecil. Pimpinan Erthogrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin II. Kemudian Sultan Alaudin II mendapat kemenangan.
Pada tahun 1289 M Ertoghrul meninggal dunia kemudian Sultan Alauddin menunjuk cucunya Usman sebagai penguasa wilayah Byzantium dan akhirnya Usman memerintah kerajaan ( 1290 – 1326 M) setelah Sultan Alauddin wafat. Sehingga terbukalah Usman untuk memiliki menuju tingkat yang paling tinggi dengan naiknya Usman menggantikan Sultan Alauddin maka berakhirlah kerajaan Saljuk  dan berdirilah kerajaan Usman dan Usman mengumumkan dirinya sebagai  Padisyah Al Usman (raja besar keluarga Usman).
Nama kerajaan Usman diambil dari dan dibangsakan kepada nenek moyang meraka yang pertama, Sultan Usmani ibn Sauji ibn Ertoghrol ibn Sulaiman ibn Kia Alp, kepala kabilah Kab di Asia Tengah.[2]


b.        Sultan-sultan yang pernah berkuasa
1.      Sultan Urkhan (726-761 H atau 1326-1359 M).
2.      Sultan Murad I (761-789 H atau 1359-1389 M).
3.      Sultan Bayazid I
4.      Sultan Muhammad I (1403-1421 M)
5.      Sultan Murad II (1421-1451 M)
6.      Sultan Muhammad II ( 1451-1484 M)
7.      Sultan Salim I (1512-1520 M)
8.      Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520-1566 M)
c.             Perkembangan Kerajaan Utsmani
Setelah Usman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al-Usmani (Raja besar keluarga Usman) pada tahun 699 H (1300 M), wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Byzantium dan menaklukkan Broessa tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Pada masa pemerintahan Orkhan, kerajaan Turki Utsmani ini dapat menaklukkan Azmir, Thawasyanli, Uskandar, Ankara dan Gallipoli. Selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa.
Merasa cemas terhadap ekspansi kerajaan ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Utsmani, namun Sultan Bayazid I (1389-1403 M), dapat menghancurkan pasukan sekutu Eropa tersebut.Ekspansi Bayazid I sempat berhenti karena adanya tekanan dan serangan dari pasukan Timur Lenk ke Asia kecil. Pertempuran hebat terjadi antara tahun 1402 M dan pasukan Turki mengalami kekalahan. Kekalahan tersebut membawa dampak yang buruk bagi Kerajaan Utsmani yaitu banyaknya penguasa-penguasa Seljuk di Asia kecil yang melepaskan diri. Begitu pula dengan Bulgaria dan Serbia, tetapi hal itu dapat diatasi oleh Sultan Muhammad I (1403-1421 M). Usaha beliau yang pertama yaitu meletakkan dasar-dasar keamanan dan perbaikan-perbaikan dalam negeri.
Usaha beliau kemudian diteruskan oleh Sultan Murad II (1421-1451).Turki Utsmani mengalami kemajuannya pada masa Sultan Muhammad II (1451-1484 M) atau Muhammad Al-Fatah. Beliau mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M yang merupakan kekuatan terakhir Imperium Romawi Timur. putra Sultan Salim I, yaitu Sulaiman I (1520-1526 M) dan berhasil menaklukkam Irak, Belgaro,kepulauan Rhodes, Tunis dan Yaman. Masa beliau ini merupakan puncak keemasan dari kerajaan Turki Utsmani. Sebab, setelah Sultan Sulaiman I meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara putera-puteranya dan itu menyebabkan kerajaan Utsmani mulai mengalami kemunduran.[3] Akan tetapi, meskipun terus mengalami kemunduran, kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai negara yang kuat, terutama dalam bidang militer.




d.            Kemajuan Kerajaan Utsmani
Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Utsmani yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti pula oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan yang lain. Yang terpenting diantaranya adalah sebagai berikut:

1.         Bidang Militer dan Pemerintahan
Kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur pada masa pemerintahan Sultan Murad l. Tahap selanjutnya Orkhan mengadakan perombakan dalam tubuh organisai militer dalam bentuk mutasi personil pimpinan dan perombakan dalam keanggotaan. Bangsa-bangsa non Turki dimasukkan sebagai anggota. Progam ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut jenissari dan inkisyariyah. Pasukan ini yang dapat mengubah Negara Utsmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penakhlukan negeri non muslim. Factor utama yang mendorong kemajuan ini ialah tabiat bangsa turki itu sendiri yang bersifat militer, berdisiplin, dan patuh terhadap peraturan.
Keberhasilan ekspansi tersebut dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemeritahan yang teratur. Untuk mengatur pemerintahan Negara, dimasa Sultan Sulaiman l. disusun sebuah kitab undang-undang(qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Utsmani sampai datangnya reformasi pada abad 19.

2.         Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Turki Utsmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang militer, sementara dalam ilmu pengetahuan mereka tidak begitu kelihatan menonjol. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pembangunan yang indah seperti Masjid Jami’ Sultan Muhammad Al-Fatih. Ada juga Masjid Agung Sulaiman dan Masjid Abi Ayyub al-Anshari. Dan Aya Sophia merupakan masjid yang terkenal karena keindahan kaligrafinya yang asalnya adalah gereja kristen Pada masa Sulaiman di kota-kota lainnya juga banyak dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, makam jembatan, saluran air, vila dan pemandian umum. Disebutkan bahwa 235 buah bangunan itu dibangun dibawah coordinator Sinan, seorang arsitek asal Anatolia.
3.            Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat turki mempunyai peranan besar dalam sosial politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi  hukum yang berlaku.

e.    Kemunduran Kerajaan Utsmani
Sesudah Sulaiman al-Qanuni, kerajaan Ustmani tidak lagi mempunyai sultan-sultan yang kenamaan. Kerajaan ini mulai memasuki  fase kemunduran di abad 17 M. Di dalam negeri timbul pemberontakan-pemberontakan seperti di Syuriah dibawah pimpinan Kurdi Jumbulat, di Lebanon dibawah pimpinan Druze Amir Fakhrudin. Dengan negara-negara tetangga terjadi peperangan seperti Venitia (1645-1664 M). Dan dengan sah abas dari Persia, Jenissari nama yang diberikan kepada tentara Ustmani juga berontak. Sultan-sultan berada dibawah kekuasaan Harem. Pada saat itu di Eropa mulai timbul negara-negara kuat. Dalam peperangan dengan negara-negara ini mengalami kekalahan-kekalahan dan daerahnya di Eropa mulai di perkecil sedikt demi sedikit. Seperti Yunani memperoleh kemerdekaannya kembali di tahun 1829 M dan Rumania lepas di tahun 1856 M. Yang lain mengikuti sehingga setelah Perang Dunia 1 daerah kerajaan Ustmani yang demikian luas yang dahulu mencakup Asia kecil dan sebagian kecil dari daratan Eropa Timur. Kerajaan Usmani lenyap dan sebagiannya timbul Republik Turki di tahun 1924 M.[4]
Selain faktor tersebut, ada beberapa factor lain yang menyebabkan Kerajaan Utsmani mengalami kemunduran. Faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Wilayah kekuasaan yang sangat luas dan tidak diimbangi dengan penataan sistem pemerintahan yang baik.
2.    Pemberontakan tentara jenissari
3.    Penguasa yang tidak cakap
4.    Kemerosotan perekonomian Negara
5.    Stagnasi di bidang ilmu dan tekhnologi
6.    Budaya pungli
7.    Heterogenitas penduduk

B.   KERAJAAN SAFAWI DI PERSIA

a.      Asal-usul Kerajaan Safawi
Awalnya kerajaan ini berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabila, sebuah kota di Azerbaijan, Tarekat ini diberi namaTarekat Safawiyah,[5] yang diambil dari nama pendirinya Safi Al-din (1252-1334 M),  dan nama itu terus dipertahankankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan Kerajaan.[6] Menurut Harun Nasution, di Persia muncul suatu dinasti yang kemudian merupakan suatu kerajaan besar di dunia Islam. Dinasti ini berasal dari seorang sufi bernama Syekh Ishak Safiuddin dari Ardabila di Azerbaijan.[7]
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa penggagas awal berdirinya Kerajaan Safawi adalah Syekh Ishak Safiuddin dari Ardabila di Azerbaijan atau dikenal dengan Safi Al-Din, yang semula hanya sebagai mursyid tarekat dengan tugas dakwah agar umat Islam secara murni berpegang teguh pada ajaran agama. Namun pada tahun selanjutnya setelah memperoleh banyak pengikut fanatik akhirnya aliran tarekat ini berubah menjadi gerakan politik dan diteruskan mendirikan sebuah kerajaan. Perkembangan peradaban Islam di Persia dimulai sejak berdirinya kerajaan Safawi, yang dipelopori oleh Safi Al-Din sejak tahun 1252 hingga 1334 M. Kerajaan ini berdiri di saat Kerajaan Turki Usmani mencapai puncak kejayaannya.
     Safi Al-Din berasal dari keturunan yang berada namun  ia memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Ia keturunan dari Imam Syi’ah yang keenam, Musa Al-Kazhim. Gurunya bernama Syaikh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301) yang dikenal dengan julukan Zahid Al-Gilani, karena prestasi dan ketekunannya dalam kehidupan tasawuf, Safi Al-Din dijadikan menantu oleh gurunya tersebut. Safi Al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru sekaligus mertuanya yang wafat tahun 1301 M, pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah ini bertujuan memerangi orang-orang ingkar dan golongan “ahli-ahli bid’ah”. Namun pada perkembangannya, gerakan tasawuf yang bersifat lokal ini berubah menjadi gerakan keagamaan yang mempunyai pengaruh besar di Persia, Syria dan Anatolia. Di negeri-negeri yang berada di luar Ardabil inilah, Safi Al-Din menempatkan seorang wakil yang diberi nama Khalifah untuk memimpin murid-muridnya di daerah masing-masing.[8]
Suatu ajaran Agama yang dipegang secara fanatik biasanya kerapkali menimbulkan keinginan di kalangan ajaran itu untuk berkuasa. Oleh karena itu, lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah berubah menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang bermazhab selain Syi’ah[9].
Dalam dekade 1447 – 1501 M Safawi memasuki tahap gerakan politik, sama halnya dengan gerakan sanusiyah di Afrika Utara, Mahdiyah di Sudan dan Maturdiyah serta Naksyabandiyah di Rusia. Kecenderungan memasuki dunia politik secara konkrit tampak pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M). Dinasti safawi memperluas gerakannya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasaan kegiatan ini ternyata menimbulkan konflik antara Juneid dengan kekuatan politik yang ada di Persia waktu itu, misalnya konflik politik dengan kerajaan-kerajaan Kara Koyunlu (domba hitam) salah satu suku bangsa Turki  yang berkuasa di wilayah itu yang bermahzhab Sunni di bawah kekuasaan Imperium Usmani. Karena konflik tersebut maka ia mengalami kekalahan dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat baru ini ia mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, AK. Koyunlu (domba putih), juga suatu suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai sebagian Persia.
Selama dalam pengasingan, Juneid tidak tinggal diam. Ia malah menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik denagn Uzun Hasan. Ia juga berhasil mempersunting salah seorang saudara perempuan Uzun Hasan. Pada tahun  1459 M, Juneid mencoba merebut Ardabil tetapi gagal. Pada tahun 1460 M, ia mencoba merebut Circassia tetepi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan. Ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut. Keteika itu anak Juneid, Haidar, masih kecil dan dalam asuhan Uzun Hasan. Karena itu, kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan kepadanya secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat setelah Haidar mengawini salh seorang putri Uzun Hasan. Dari perkawinan itu lahirlah Ismail, yang di kemudian hari menjadi pendiri Kerajaan Safawi di Persia.
     Kemenangan AK-Koyunlu terhadap Kara Koyunlu tahun 1476 M, membuat gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh AK-Koyunlu dalam meraih kekuasaan yang selanjutnya. Padahal sebelumnya Safawi adalah sekutu AK Konyulu, tetapi itulah politik. Ak Konyulu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan kekuasaan Dinasti Safawi. Karena itu, ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, AK Konyulu mengirim bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.
Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK Konyulu. Tetapi Ya’kub pemimpin AK Konyulu ketika itu dapat menangkap dan memenjarakan Ali bersama kedua saudaranya Ibrahim dan Ismail beserta ibunya, di fars selama empat setengah tahun (1489-1493 M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, Putra Mahkota AK Konyulu, dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. setelah saudara sepupu Rustam itu dapat dikalahkan. Ali bersaudara (Ibrahim dan Ismail) beserta ibunya kembali ke Ardabil. Akan tetapi tidak lama kemudian Rustam berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara pada tahun 1494 M dan Ali terbunuh dalam serangan ini.
Kepemimpinan gerakan Safawi selanjutnya berada di tangan Ismail, yang saat itu masih berusia 7 tahun. Selama 5 tahun Ismail beserta pasukannya bermarkas di Gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya di Azerbaijan, Syria, Anatolia. Pasukan yang dipersiapkan itu dinamai Qizilbash (baret merah). Ismail memanfaatkan kedudukannya sebagai mursyid untuk mengkonsolidasikan kekuatan politiknya dengan menjalin hubungan dengan para pengikutnya.[10]
Di bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan AK Konyulu di Sharur dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK Konyulu dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota inilah Ismail memproklamirkan dirinya sebagai Raja pertama Dinasti Safawi. Ia disebut juga sebagai Ismail I. dengan ia sendiri sebagai Syaikhnya yang pertama dan menetapkan Syi’ah Dua Belas sebagai agama resmi kerajaan Safawi. Dengan diproklamasikannya kerajaan Safawi sebagai kerajaan dan ditetapkan pula Syi’ah sebagai agama kerajaan maka merdekalah Persia dari pengaruh dari kerajaan Usmani dan kekuatan asing lainnya. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Safawi yang akan turut memberikan kontribusi dalam perkembangan kekuasaan Islam.
b.        Sultan-sultan yang pernah berkuasa
1.    Safi Al-Din (1252-1334 M)
2.    Sadar Al-Din Musa (1334-1399 M)
3.    Khawaja Ali (1399-1427 M)
4.    Ibrahim (1427-1447 M)
5.    Juneid 1447-1460 M)
6.    Haidar 1460-1494 M)
7.    Ali (1494-1501 M)         
8.    Ismail (1501-1524 M)
9.    Tahmasp I (1524-1576 M)
10. Ismail II (1576-1577 M)       
11. Muhammad Khudabanda (1577-1787 M)
12. Abbas I (1588-1628 M)
13. Safi Mirza (1628-1642 M)
14. Abbas II (1642-1667 M)
15. Sulaiman (1667-1694 M)
16. Husen (1694-1722 M)
17. Tahmasp II (1722-1732 M)
18. Abbas III (1732-1736 M)

c.         Perkembangan Kerajaan Safawi
Di bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash (Baret Merah) menyerang dan mengalahkan Ak-Koyunlu di Sharur, dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menakhlukkan Tabriz, Ibu Kota Ak-Koyunlu dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama Dinasti Syafawi. Ia disebut juga Ismail I.
Ismail I berkuasa sekitar 23 tahun (1501-1524 M). Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Ak-Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi kaspia si Nazandaran, Gurgan dan Yazd (1505-1507 M) Baghdad dan daerah barat daya Persia (1508 M), Sirwan (1509 M), dan Khurasan (1510 M). Hanya dalam waktu sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).
Peperangan dengan Turki Utsmani terjadi pada tahun 1514  M di Chaldiran, dekat Tabriz. Karena keunggulan organisasi militer kerajaan Utsmani, dalam peperangan ini Ismail mengalami kekalahan, malah Turki Utsmani di bawah pimpinan Sultan Salim dapat menduduki Tabriz. Kerajaan Syafawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan Utsmani ke Turki karena terjadi perpecahan dikalangan militer Turki di negerinya.
Rasa permusuhan dengan kerajaan Utsmani terus berlangsung sepeninggal Ismail. Peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp I (1524 - 1576 M), Ismail II (1576 - 1577 M) dan Muhammad Khudabanda (1577 - 15873 M). Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan Syafawi dalam keadaan lemah. Disamping karena sering terjadi peperangan melawan kerajaan Utsmani yang lebih kuat, juga karena sering terjasi pertentangan antara kelompok-kelompok di dalam negeri.
Kondisi memprihatinkan ini baru bisa diatasi setelah raja Syafawi kelima, yaituAbbas I naik tahta (1588 - 1628 M). Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I untuk memulihkan politik kerajaan Syafawi adalah sebagai berikut:
Pertama, mengurangi dominasi pasukan Qizilbash denan cara membentuk pasukan baru yang direkrut dari budak tawanan peran bangsa Georgia, Armenia, Sircassia. Kedua, mengadakan perjanjian damai dengan Turki Utsmani, yaitu ia rela melepaskan wilayah Azerbaijan, Georgia, dan sebagian wilayah lainnya. Dia juga berjanji tidak akan menghina Abu Bakar, Umar, Utsman. Sebagai jaminan atas perjanjian itu, ia menyerahkan saudara sepupunya Haidar Mirza sebagai sandera di Istanbul.
Langkah-langkah yang dilakukan Abbas l tersebut berhasil membuat kerajaan Safawi menjadi kuat kembali. Ia kembali melirik wilayah-wilayahya dulu yang sempat lepas. Kemudian Abbas l menyusun kembali kekuatan militer yang kuat. Setelah  kekuatan militer terbina dengan baik, ia berusaha merebut kembali wilayah kekuasaannya dari Turki Utsmani.  Pada tahun 1602 M, disaat Tuki Utsmani berada dibawah kepemimpinan Sultan Muhammad ll, Abbas l menyerang dan berhasil menguasai Tabriz, Sirwan, dan Baghdad. Sedangkan kota-kota Nakchivan, Erivan, Ganja, dan Tiflis dapat dikuasai tahun 1605-1606 M. Selanjutnya pada tahun 1622 M pasukan Abbas l berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Bandar Abbas.

d.      Kemajuan Kerajaan Safawi

1.              Bidang Ekonomi
Bukti nyata perkembangan perekonomian Safawi adalah dikuasainya kepulauan hurmuz dan pelabuhan Gumrun kemudian diubah menjadi Bandar Abbas pada masa Abbas l. Maka salah satu jalur dagang yang menghubungkan antara timur dan berat sepeenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi. Selain itu kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sector pertanian terutama di daerah Buan Sabit Subur (fortile crescent).

2.              Bidang Ilmu Pengetahuan, filsafat, dan sains
Dalam sejarah Islam, bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang peradaban tinggi dan berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa Kerajaan Safawi tradisi keilmuan ini terus berlanjut.
Ada beberapa ilmuwan yang selalu hadir di majlis istana yaitu Baha Al-Din Al-Syaerazi (generalis iptek), Sadar Al-Din Al-Syaerazi (filosof), dan Muhammad Baqir bin Muhammad Damad (teolog, filosof, observatory kehidupan lebah-lebah).[11] Dalam bidang ilmu pengetahuan, Safawi lebih mengalami kemajuan dari pada kerajaan Mughal dan Turki Usmani.[12] Pada masa Safawi Filsafat dan Sains bangkit kembali di dunia Islam, khususnya dikalangan orang-orang persia yang berminat tinggi pada perkembangan kebudayaan. Perkembangan baru ini erat kaitannya dengan aliran Syiah yang ditetapkan Dinasti Safawi sebagai agama resmi Negara.
Dalam Syiah Dua Belas ada dua golongan, yakni Akhbari dan Ushui. Mereka berbeda didalam memahami ajaran agama. Yang pertama cenderung berpegang kepada hasil ijtihad para mujtahid Syiah yang sudah mapan. Sedang kedua mengambil dari sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan Hadits, tanpa terikat kepada para mujthadi. Golongan Ushuli inilah yang palling berperan pada masa Safawi.
Menurut Hodhson, ada dua aliran filsafat yang berkembang pada masa Safawi tersebut. Pertama, aliran filsafat “Perifatetik” sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles dan Al-Farabi. Kedua filsafat Isyraqi yang dibawa oleh Syaharawadi pada abad ke XII. Kedua aliran ini banyak dikembangkan di perguruan Isfahan dan Syiraj. Di bidang filosof ini muncul beberapa orang filosof diantaranya Muhammad Baqir Damad (W. 1631 M) yang dianggap guru ketiga sesudah Aristoteles dan Al-Farabi, tokoh lainnya misalnya Mulla Shadra yang menurut sejarah ia adalah seorang dialektikus yang paling cakap di zamannya[13].


3.              Bidang seni dan pembangunan fisik
Kemajuan seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah ibukota kerajaan ini. Sejumlah sekolah, masjid, rumah sakit, jembatanyang memanjang diatas Zenderud dan istana Chihisutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan kebun wisata.
4.             Bidang Politik
Pengertian kemajuan dibidang politik disini adalah terwujudnya integritas wilayah Negara yang luas yang dikawal oleh suatu angkatan bersenjata yang tangguh dan diatur oleh suatu pemerintahan yang kuat, serta mampu memainkan peranan dalam percaturan politik internasional.
Sebagaimana lazimnya kekuatan politik suatu Negara ditentukan oleh kekuatan angkatan bersenjata, Syah Abbas I juga telah melakukan langkah politiknya yang pertama, membangun angkatan bersenjata dinasti Safawi yang kuat, besar dan modern. Tentara Qizilbash yang pernah menjadi tulang punggung Dinasti Safawi pada awalnya dipandang Syah Abbas tidak diharapkan lagi, sehingga ia membangun  suatu angkatan bersenjata reguler. Inti satuan militer ini ia ambil dari bekas tawanan perang bekas orang-orang Kristern di Georia dan di Chircassia. Mereka dibina dengan pendidikan militer yang militan dan persenjataan yang modern. Sebagai pimpinannya ia mengangkat Allahwardi Khan, salah seorang dari Ghulam.[14]
Berkat kegigihannya Syah Abbas mampu mengatasi kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan berhasil merebut wilayah-wilayah yang pernah disebut oleh kerajaan lain pada masa sebelumnya.



e.        Kemunduran Kerajaan Safawi
Sepeninggal Abbas I, kerajaan Syafawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yang pada masa raja-raja tersebut kondisi kerajaan Syafawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran.
Penyebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Syafawi adalah:
·         Konflik berkepanjangan dengan kerajaan Utsmani
·         Dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Syafawi
·         Pasukan Ghulam yang dibentuk Abbas I tidak memiliki semangat perang tinggi seperti Qizilblash
·         Seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.

C.    KERAJAAN MUGHAL DI  INDIA

a.      Sejarah Singkat Kerajaan
Kerajaan Mughol berdiri seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan safawi. Kerajaan ini termasuk dari tiga kerajaan besar Islam dan kerajaan inilah termuda. Awal kekuasaan Islam di India terjadi pada masa khalifah Al-walid dari Dinasti Bani Umayah, di bawah pimpinan Muhammad Ibnu Qosim.
Kerajaan Mughol di India dengan Delhi sebagai ibu kotanya, di dirikan oleh Zahirrudin Babur ( 1482-1530 M ) salah satu dari cucu Timur lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babaur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya pada Usia 11 tahun. Karena dari kecil di didik sebagai seorang panglima, ia bertekad dan berambisi akan menaklukan kota terpenting di Asia Tengah yaitu Samarkand. Pada mulanya Babur mengalami kekalahan, tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Safawi kala itu yaitu Ismail I, akhirnya berhasil menaklukan Samarkand (1494 M). Pada tahun 1504 M, ia menduduki Kabul (Afganistan). Babur juga mampu menguasai Punjab (1525 M), kemudian menguasai Delhi setelah bertempur di Panipat sebagai pemenang. Dengan demikian, Babur dapat menegakkan pemerintahannya di sana, maka berdirilah kerajaan Mughol di India(1525M).[15]
b.                      Sultan-sultan yang pernah berkuasa
1.      Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530)
2.      Humayun (1530-1556)
3.      Akbar (1556-1605)
4.      Jahangir (1605-1627)
5.      Syah Jihan (1628¬-1658)
6.      Aurangzeb (1658-1707)
7.      Bahadur Syah (1707-1712)
8.      Jehandar (1712-1713)
9.      Fahrukhsiyar (1713-1719)
10.   Muhammad Syah (1719-1748)
11.  Ahmad Syah (1748-1754)
12.  Alamghir II (1754-1760)
13.  Syah Alam (1760¬-1806)
14.  Akbar II (1806-1837 M),
15.  Bahadur Syah (1837-1858).

c.                    Perkembangan Kerajaan Mughal
Sepeninggalan babur tahun 1530 M, tahta kerajaan Mughal diteruskan oleh anaknya yang bernama Humayun. Walaupun Babur telah berhasil menegakkan Mughal dari serangan musuh, namun Humayun tetap saja menghadapi tantangan. Selama roda kepemimpinannya, kondisi pemerintahan tidak pernah stabil. Selain banyak menghadapi peperangan, ia harus menghadapi gerakan pemberontakan  Bahadur Syah penguasa Gujarat dan pertempuran besar dengan Sher Khan  di Kanauj pada tahun 1540 M. dan pada tahun 1556 M, Humayun meninggal dunia.
Selanjutnya Humayun digantikan anaknya yaitu Akbar yang berusia 14 tahun, karena ia masih muda maka urusan kekeuasaan diserahkan pada Bairam Khan, seorang Syi’i. Pada masa Akbar inilah kerajaan Mughal mencapai keemasannya.
Setelah Akbar dewasa, Akbar berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan terlampau memaksakan aliran Syi’ah. Dan bairam mengarakan pemberontakan pada tahun 1561 M, tetapi tetap bisa dikalahkan oleh Akbar.
Keberhasilan ekspansi militer Akbar menandai berdirinya Mughal sebagai kerajaan yang besar, karena dua gerbang India yaitu Abul dan kota kandahar dikuasai oleh Akbar. Kemajuan yang telah dicapai oleh Akbar dapat dipertahankan oleh tiga sultan berikutnya, yaitu Jhangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M) dan Aurangzeb (1658-1707 M). Ketiganya merupakan raja-raja besar Mughal yang didukung oleh kekuatan militer yang sangat besar.


d.      Kemajuan Kerajaan Mughal

1.      Bidang Ekonomi
Kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian, pertambangan, dan perdagangan. Di sektor pertanian, komunikasi antara pemerintah dan petani diatur dengan baik. Hasil pertanian yang terpenting adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau, kapas, nila, dan bahan-bahan celupan.

2.      Bidang Seni
·    Karya seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun India. Penyair yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi.
·    Karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan antara lain:
Ø Istana Fatpur Sikri di Sikri, Cila dan Masjid-masjid yang indah pada masa Akbar
Ø Taj Mahal di Agra, Masjid Raya Delhi dan Istana Indah di Lahore pada masa Syah Jehan.

3.      Bidang Ilmu Pengetahuan
Pada masa Shah Jehan didirikan sebuah perguruan tinggi di Delhi. Jumlah ini semakin bertambah ketika pemerintahan dipegang oleh Aurangzeb. Dibidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan sebutan Fatawa –i-Alamgiri.
4.      Bidang Politik dan Administrasi Kepemerintahan
1.  Perluasan wilayah. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. dan konsolidasi kekuatan. Usaha ini berlangsung hingga masa pemerintahan Aurangzeb.
2.  Menjalankan roda pemerintahan secara, pemerintahan militeristik.
3.   Akbar menerapkan politik toleransi universal (sulakhul). Dengan politik ini, semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan karena perbedaan etnis dan agama. Politik ini dinilai sebagai model toleransi yang pernah dipraktekkan oleh penguasa Islam.
5.   Agama
1.  Pada masa Akbar, perkembangan agama Islam di Kerajaan Mughal mencapai suatu fase yang menarik, di mana pada masa itu Akbar memproklamasikan sebuah cara baru dalam beragama, yaitu konsep Din-i-Ilahi
2.  Perbedaan kasta di India membawa keuntungan terhadap pengembangan Islam, seperti pada daerah Benggal, Islam langsung disambut dengan tangan terbuka oleh penduduk terutama dari kasta rendah yang merasa disia-siakan dan dikutuk oleh golongan Arya Hindu yang angkuh.
3.  Berkembangnya aliran keagamaan Islam di India. Sebelum dinasti Mughal, muslim India adalah penganut Sunni fanatik. Tetapi penguasa Mughal memberi tempat bagi Syi’ah untuk mengembangkan pengaruhnya.
4.  Pada masa ini juga dibentuk sejumlah badan keagamaan berdasarkan persekutuan terhadap mazhab hukum, tariqat Sufi, persekutuan terhadap ajaran Syaikh, ulama, dan wali individual. Mereka terdiri dari warga Sunni dan Syi’i.

e.         Kemunduran Kerajaan Mughal
Ada beberapa factor yang menyebabkan kekuasaan dinasti mughal itu mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancuran pada tahun 1858 M. Adapun faktor-faktor tersebut adalah: 
1.      Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritime Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan Mughal sendiri.
2.      Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang Negara.
3.      Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
4.      Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.





























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Kerajaan Utsmani berasal dari suku bangsa pengembara Qoyigh Oghuz, beribukota di Syukud. Pada tahun 1300 M, Kerajaan Utsmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Utsman yang sering disebut Utsman I. Dinasti Utsmani berkuasa kurang lebih selama tujuh abad, dengan sekitar 36 sultan selama kekuasaannya. Pasukan Janissary bentukan Orkhan yang terkenal tangguh merupakan pasukan pertama yang berhasil menaklukkan beberapa wilayah sehingga daerah kekuasaan Utsmani semakin luas. Peradaban yang dihasilkan meliputi bidang militer, pemerintahan, ilmu pengetahun dan budaya. Kemunduran Utsmani dimulai ketika wafatnya sultan Sulaiman al-Qoruni tahun 1566 M.
2.      Kerajaan Syafawi berdiri sejak 1503-1722 M. Kerajaan Syafawi berasal dari sebuah gerakan tarekat Syafawiyah, yang didirikan di Ardabil. Nama Syafawiyah diambil dari nama pendirinya, Syafi al-Din. Nama Syafawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik, bahkan hingga gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan. Hasil peradaban kerajaan Syafawi meliputi bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, bagunan fisik dan seni. Kemunduran Syafawi berturut-turut sepeninggal  Abbas I.
3.      Kerajaan Mughal didirikan oleh Zahirudin Babur (1526 - 1530 M). dan Peradaban yang diukir oleh kerajaan Mughal yakni pada bidang ekonomi, seni, dan ilmu pengetahuan. Kemunduran Kerajaan Mughal disebabkan karena terjadi strategi dalam pembinaan kekuatan, kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-idenya, semua pewaris tahta kerajaan adalah orang yang lemah dalam bidang kepemimpinan.



[1] Kabilah yang menurunkan bangsa Turki Ustmani yang berasal dari sebelah utara Tiongkok kemudian pindah ke daerah Turkistan.
[2] Badri Yatim, Sejarah  Peradaban Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta: 1993. hlm 129
[3] A. Jamil, BA dkk. “SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM”, CV. TOHA PUTRA SEMARANG 1981, hlm. 108-109.
[4] PROF. DR. HARUN NASUTION, “ISLAM DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEK” JILID I”, Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 2011, hlm. 84
[5] Tarekat Safawiyah ini didirikan bersamaan dengan berdirinya kerajaan Usmani di Turki.
[6] Badri Yatim, Sejarah Peradaban  Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2000,hlm. 138
[7] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Bebagai Aspek, Jakarta: UI-Press, 1985, hlm. 84
[8] Hamka, Sejarah Umat Islam, Jilid III, Jakarta: bulan Bintang, 1981, hlm. 60
[9] Samsul Munir Amin, M.A., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah, 2009, hal 188
[10] Yaitu tentara kerajaan Safawi yang berasal dari suku-suku beraliran Syi’ah dari Anatolia bagian timur. Pada pasukan Qizilbash ini topinya dilengkapi dengan 12 rumbai yang memiliki makna Syi’ah, Isna ‘Asyariah (Dua Belas Imam) mempunyai pengaruh yang besar dalam menanamkan sifat fanatisme dan militansi para pengikut Syi’ah dengan pemimpinnya.
[11] Ibid, hlm 505

[12] Ajid Thohir, hal. 177
[13] Ibid.
[14] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo) hal. 175
[15] PROF. DR. HARUN NASUTION, “ISLAM DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEK” JILID I”, Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 2011, hlm. 82