3 KERAJAAN BESAR
22:51 Posted In Tugas Edit This 0 Comments »
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Setelah khalifah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan
tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis.
Wilayah kekukasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu
sama lain bahkan saling memerangi dan menjatuhkan untuk mendapatkan
kekuasaan yang lebih luas lagi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam
banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Tentara
Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk juga mengahancurkan
pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain dan membakar habis
ribuan buku ilmiah karya sarjana muslim.
Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan
baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya Tiga Kerajaan
Besar Islam, yaitu Utsmani di Turki, Mughal di India, dan Syafawi di
Persia. Kerajaan Utsmani, disamping yang pertama berdiri, juga yang terbesar
dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimana
sejarah tentang Kerajaan Utsmani di
Turki?
2. Bagaimana
sejarah tentang Kerajaan Syafawi di Persia?
3. Bagaimana
sejarah tentang Kerajaan Mughal India?
BAB ll
PEMBAHASAN
A. KERAJAAN UTSMANI DI
TURKI
a.
Sejarah Ringkas
Timbulnya Kerajaan Utsmani
Pendiri kerajaan Usmani adalah
bangsa Turki dari kabilah Oghuz[1]
yang mendiami daerah Mongol dan daerah negeri Cina. Setelah tiga abad mereka
pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad
ke sembilan atau ke sepuluh. Di Asia tenggara mereka mendapat tekanan serangan
Mongol selanjutnya melarikan diri ke daerah Barat, saudara mereka orang-orang
Turki Seljuk, daratan tinggi Asia Kecil. Pimpinan Erthogrul, mereka mengabdikan
diri kepada Sultan Alaudin II. Kemudian Sultan Alaudin II mendapat kemenangan.
Pada tahun 1289 M Ertoghrul
meninggal dunia kemudian Sultan Alauddin menunjuk cucunya Usman sebagai
penguasa wilayah Byzantium dan akhirnya Usman memerintah kerajaan ( 1290 – 1326
M) setelah Sultan Alauddin wafat. Sehingga terbukalah Usman untuk memiliki
menuju tingkat yang paling tinggi dengan naiknya Usman menggantikan Sultan
Alauddin maka berakhirlah kerajaan Saljuk dan berdirilah kerajaan
Usman dan Usman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al
Usman (raja besar keluarga Usman).
Nama kerajaan Usman diambil dari dan
dibangsakan kepada nenek moyang meraka yang pertama, Sultan Usmani ibn Sauji
ibn Ertoghrol ibn Sulaiman ibn Kia Alp, kepala kabilah Kab di Asia Tengah.[2]
b.
Sultan-sultan yang pernah berkuasa
1. Sultan Urkhan (726-761 H atau 1326-1359
M).
2. Sultan Murad I (761-789 H atau
1359-1389 M).
3. Sultan Bayazid I
4. Sultan Muhammad I (1403-1421 M)
5. Sultan Murad II (1421-1451 M)
6. Sultan Muhammad II ( 1451-1484 M)
7. Sultan Salim I (1512-1520 M)
8. Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520-1566
M)
c.
Perkembangan Kerajaan
Utsmani
Setelah Usman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al-Usmani (Raja
besar keluarga Usman) pada tahun 699 H (1300 M), wilayah kerajaan dapat
diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Byzantium dan menaklukkan Broessa
tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota
kerajaan. Pada masa pemerintahan
Orkhan, kerajaan Turki Utsmani ini dapat menaklukkan Azmir, Thawasyanli,
Uskandar, Ankara dan Gallipoli. Selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia
melakukan perluasan daerah ke benua Eropa.
Merasa cemas terhadap
ekspansi kerajaan ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar
pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Utsmani, namun Sultan
Bayazid I (1389-1403 M), dapat menghancurkan pasukan sekutu Eropa
tersebut.Ekspansi Bayazid I sempat berhenti karena adanya tekanan dan serangan
dari pasukan Timur Lenk ke Asia kecil. Pertempuran hebat terjadi antara tahun
1402 M dan pasukan Turki mengalami kekalahan. Kekalahan tersebut membawa dampak
yang buruk bagi Kerajaan Utsmani yaitu banyaknya penguasa-penguasa Seljuk di
Asia kecil yang melepaskan diri. Begitu pula dengan Bulgaria dan Serbia, tetapi
hal itu dapat diatasi oleh Sultan Muhammad I (1403-1421 M). Usaha beliau yang
pertama yaitu meletakkan dasar-dasar keamanan dan perbaikan-perbaikan dalam
negeri.
Usaha beliau kemudian
diteruskan oleh Sultan Murad II (1421-1451).Turki Utsmani mengalami kemajuannya
pada masa Sultan Muhammad II (1451-1484 M) atau Muhammad Al-Fatah. Beliau
mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M yang
merupakan kekuatan terakhir Imperium Romawi Timur. putra Sultan Salim I, yaitu
Sulaiman I (1520-1526 M) dan berhasil menaklukkam Irak, Belgaro,kepulauan
Rhodes, Tunis dan Yaman. Masa beliau ini merupakan puncak keemasan dari
kerajaan Turki Utsmani. Sebab, setelah Sultan Sulaiman I meninggal dunia,
terjadilah perebutan kekuasaan antara putera-puteranya dan itu menyebabkan
kerajaan Utsmani mulai mengalami kemunduran.[3] Akan tetapi, meskipun
terus mengalami kemunduran, kerajaan ini untuk masa beberapa
abad masih dipandang sebagai negara yang kuat, terutama dalam bidang militer.
d.
Kemajuan Kerajaan
Utsmani
Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Utsmani yang demikian
luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti pula oleh kemajuan-kemajuan dalam
bidang-bidang kehidupan yang lain. Yang terpenting
diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Bidang
Militer dan Pemerintahan
Kekuatan militer
kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur pada masa pemerintahan
Sultan Murad l. Tahap selanjutnya Orkhan mengadakan perombakan dalam tubuh
organisai militer dalam bentuk mutasi personil pimpinan dan perombakan dalam
keanggotaan. Bangsa-bangsa non Turki dimasukkan sebagai anggota. Progam ini
ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut jenissari dan inkisyariyah.
Pasukan ini yang dapat mengubah Negara Utsmani menjadi mesin perang yang paling
kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penakhlukan negeri non
muslim. Factor utama yang mendorong kemajuan ini ialah tabiat bangsa turki itu
sendiri yang bersifat militer, berdisiplin, dan patuh terhadap peraturan.
Keberhasilan ekspansi tersebut
dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemeritahan yang teratur. Untuk
mengatur pemerintahan Negara, dimasa Sultan Sulaiman l. disusun sebuah kitab
undang-undang(qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur, yang menjadi
pegangan hukum bagi kerajaan Turki Utsmani sampai datangnya reformasi pada abad
19.
2.
Bidang
Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Turki Utsmani lebih
banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang militer, sementara dalam ilmu
pengetahuan mereka tidak begitu kelihatan menonjol. Namun demikian, mereka
banyak berkiprah dalam pembangunan yang indah seperti Masjid Jami’ Sultan
Muhammad Al-Fatih. Ada juga Masjid Agung Sulaiman dan Masjid Abi Ayyub
al-Anshari. Dan Aya Sophia merupakan masjid yang terkenal karena keindahan
kaligrafinya yang asalnya adalah gereja kristen Pada masa Sulaiman di kota-kota
lainnya juga banyak dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, makam jembatan,
saluran air, vila dan pemandian umum. Disebutkan
bahwa 235 buah bangunan itu dibangun dibawah coordinator Sinan, seorang arsitek
asal Anatolia.
3.
Bidang
Keagamaan
Agama dalam tradisi
masyarakat turki mempunyai peranan besar dalam sosial politik. Masyarakat
digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan
syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku.
e. Kemunduran
Kerajaan Utsmani
Sesudah Sulaiman al-Qanuni, kerajaan Ustmani tidak lagi mempunyai
sultan-sultan yang kenamaan. Kerajaan ini mulai memasuki fase kemunduran di abad 17 M. Di dalam negeri
timbul pemberontakan-pemberontakan seperti di Syuriah dibawah pimpinan Kurdi
Jumbulat, di Lebanon dibawah pimpinan Druze Amir Fakhrudin. Dengan
negara-negara tetangga terjadi peperangan seperti Venitia (1645-1664 M). Dan dengan
sah abas dari Persia, Jenissari nama yang diberikan kepada tentara Ustmani juga
berontak. Sultan-sultan berada dibawah kekuasaan Harem. Pada saat itu di Eropa
mulai timbul negara-negara kuat. Dalam peperangan dengan negara-negara ini mengalami
kekalahan-kekalahan dan daerahnya di Eropa mulai di perkecil sedikt demi
sedikit. Seperti Yunani memperoleh kemerdekaannya kembali di tahun 1829 M dan
Rumania lepas di tahun 1856 M. Yang lain mengikuti sehingga setelah Perang
Dunia 1 daerah kerajaan Ustmani yang demikian luas yang dahulu mencakup Asia
kecil dan sebagian kecil dari daratan Eropa Timur. Kerajaan Usmani lenyap dan
sebagiannya timbul Republik Turki di tahun 1924 M.[4]
Selain faktor tersebut,
ada beberapa factor lain yang menyebabkan Kerajaan Utsmani mengalami
kemunduran. Faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1. Wilayah
kekuasaan yang sangat luas dan tidak diimbangi dengan penataan sistem
pemerintahan yang baik.
2. Pemberontakan
tentara jenissari
3. Penguasa yang
tidak cakap
4. Kemerosotan
perekonomian Negara
5. Stagnasi di
bidang ilmu dan tekhnologi
6. Budaya pungli
7. Heterogenitas
penduduk
B. KERAJAAN SAFAWI DI
PERSIA
a.
Asal-usul
Kerajaan Safawi
Awalnya kerajaan ini berasal dari sebuah gerakan tarekat
yang berdiri di Ardabila, sebuah kota di Azerbaijan, Tarekat ini diberi namaTarekat
Safawiyah,[5] yang
diambil dari nama pendirinya Safi Al-din (1252-1334 M), dan nama itu
terus dipertahankankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, nama
itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan Kerajaan.[6] Menurut
Harun Nasution, di Persia muncul suatu dinasti yang kemudian merupakan suatu
kerajaan besar di dunia Islam. Dinasti ini berasal dari seorang sufi bernama
Syekh Ishak Safiuddin dari Ardabila di Azerbaijan.[7]
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa penggagas awal
berdirinya Kerajaan Safawi adalah Syekh Ishak Safiuddin dari Ardabila di
Azerbaijan atau dikenal dengan Safi Al-Din, yang semula hanya sebagai mursyid
tarekat dengan tugas dakwah agar umat Islam secara
murni berpegang teguh pada ajaran agama. Namun pada tahun selanjutnya setelah
memperoleh banyak pengikut fanatik akhirnya aliran tarekat ini berubah menjadi
gerakan politik dan diteruskan mendirikan sebuah kerajaan. Perkembangan
peradaban Islam di Persia dimulai sejak berdirinya kerajaan Safawi, yang
dipelopori oleh Safi Al-Din sejak tahun 1252 hingga 1334 M. Kerajaan ini
berdiri di saat Kerajaan Turki Usmani mencapai puncak kejayaannya.
Safi Al-Din berasal dari keturunan yang berada namun ia
memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Ia keturunan dari Imam Syi’ah yang keenam,
Musa Al-Kazhim. Gurunya bernama Syaikh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi
(1216-1301) yang dikenal dengan julukan Zahid Al-Gilani, karena prestasi
dan ketekunannya dalam kehidupan tasawuf, Safi Al-Din dijadikan menantu oleh
gurunya tersebut. Safi Al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia
menggantikan guru sekaligus mertuanya yang wafat tahun 1301 M, pengikut tarekat
ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah
ini bertujuan memerangi orang-orang ingkar dan golongan “ahli-ahli
bid’ah”. Namun pada perkembangannya, gerakan tasawuf yang bersifat lokal
ini berubah menjadi gerakan keagamaan yang mempunyai pengaruh besar di Persia,
Syria dan Anatolia. Di negeri-negeri yang berada di luar Ardabil inilah, Safi
Al-Din menempatkan seorang wakil yang diberi nama Khalifah untuk memimpin
murid-muridnya di daerah masing-masing.[8]
Suatu ajaran Agama yang dipegang secara fanatik biasanya
kerapkali menimbulkan keinginan di kalangan ajaran itu untuk berkuasa. Oleh
karena itu, lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah berubah menjadi tentara
yang teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang
bermazhab selain Syi’ah[9].
Dalam dekade 1447 – 1501 M Safawi memasuki tahap gerakan
politik, sama halnya dengan gerakan sanusiyah di Afrika Utara, Mahdiyah di
Sudan dan Maturdiyah serta Naksyabandiyah di Rusia. Kecenderungan memasuki
dunia politik secara konkrit tampak pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460
M). Dinasti safawi memperluas gerakannya dengan menambahkan kegiatan politik
pada kegiatan keagamaan. Perluasaan kegiatan ini ternyata menimbulkan konflik
antara Juneid dengan kekuatan politik yang ada di Persia waktu itu, misalnya
konflik politik dengan kerajaan-kerajaan Kara Koyunlu (domba hitam) salah satu
suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu yang bermahzhab Sunni
di bawah kekuasaan Imperium Usmani. Karena konflik tersebut maka ia mengalami
kekalahan dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat baru ini ia mendapat
perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, AK. Koyunlu (domba putih), juga suatu
suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai
sebagian Persia.
Selama dalam pengasingan, Juneid tidak tinggal diam. Ia
malah menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik denagn Uzun
Hasan. Ia juga berhasil mempersunting salah seorang saudara perempuan Uzun
Hasan. Pada tahun 1459 M, Juneid mencoba merebut Ardabil tetapi
gagal. Pada tahun 1460 M, ia mencoba merebut Circassia tetepi pasukan yang
dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan. Ia sendiri terbunuh dalam pertempuran
tersebut. Keteika itu anak Juneid, Haidar, masih kecil dan dalam asuhan Uzun
Hasan. Karena itu, kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan kepadanya
secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat
setelah Haidar mengawini salh seorang putri Uzun Hasan. Dari perkawinan itu
lahirlah Ismail, yang di kemudian hari menjadi pendiri Kerajaan Safawi di
Persia.
Kemenangan AK-Koyunlu terhadap Kara Koyunlu tahun 1476 M, membuat
gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival
politik oleh AK-Koyunlu dalam meraih kekuasaan yang selanjutnya. Padahal
sebelumnya Safawi adalah sekutu AK Konyulu, tetapi itulah politik. Ak Konyulu
berusaha melenyapkan kekuatan militer dan kekuasaan Dinasti Safawi. Karena itu,
ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, AK Konyulu
mengirim bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan
Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.
Ali, putra dan pengganti Haidar,
didesak oleh bala tentranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya,
terutama terhadap AK Konyulu. Tetapi Ya’kub pemimpin AK Konyulu ketika itu
dapat menangkap dan memenjarakan Ali bersama kedua saudaranya Ibrahim dan
Ismail beserta ibunya, di fars selama empat setengah tahun (1489-1493 M).
Mereka dibebaskan oleh Rustam, Putra Mahkota AK Konyulu, dengan syarat mau
membantunya memerangi saudara sepupunya. setelah saudara sepupu Rustam itu
dapat dikalahkan. Ali bersaudara (Ibrahim dan Ismail) beserta ibunya kembali ke
Ardabil. Akan tetapi tidak lama kemudian Rustam berbalik memusuhi dan menyerang
Ali bersaudara pada tahun 1494 M dan Ali terbunuh dalam serangan ini.
Kepemimpinan gerakan Safawi selanjutnya berada di tangan
Ismail, yang saat itu masih berusia 7 tahun. Selama 5 tahun Ismail beserta
pasukannya bermarkas di Gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan
dengan para pengikutnya di Azerbaijan, Syria, Anatolia. Pasukan yang
dipersiapkan itu dinamai Qizilbash (baret merah). Ismail memanfaatkan
kedudukannya sebagai mursyid untuk mengkonsolidasikan kekuatan politiknya
dengan menjalin hubungan dengan para pengikutnya.[10]
Di bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan
Qizilbash menyerang dan mengalahkan AK Konyulu di Sharur dekat Nakhchivan.
Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK Konyulu
dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota inilah Ismail memproklamirkan
dirinya sebagai Raja pertama Dinasti Safawi. Ia disebut juga sebagai Ismail
I. dengan ia sendiri sebagai Syaikhnya yang pertama dan menetapkan Syi’ah
Dua Belas sebagai agama resmi kerajaan Safawi. Dengan diproklamasikannya
kerajaan Safawi sebagai kerajaan dan ditetapkan pula Syi’ah sebagai agama
kerajaan maka merdekalah Persia dari pengaruh dari kerajaan Usmani dan kekuatan
asing lainnya. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan
Safawi yang akan turut memberikan kontribusi dalam perkembangan kekuasaan Islam.
b.
Sultan-sultan yang pernah berkuasa
1.
Safi
Al-Din (1252-1334 M)
2.
Sadar
Al-Din Musa (1334-1399 M)
3.
Khawaja
Ali (1399-1427 M)
4.
Ibrahim
(1427-1447 M)
5.
Juneid
1447-1460 M)
6.
Haidar
1460-1494 M)
7.
Ali
(1494-1501 M)
8.
Ismail
(1501-1524 M)
9.
Tahmasp
I (1524-1576 M)
10.
Ismail
II (1576-1577 M)
11.
Muhammad
Khudabanda (1577-1787 M)
12.
Abbas
I (1588-1628 M)
13.
Safi
Mirza (1628-1642 M)
14.
Abbas
II (1642-1667 M)
15.
Sulaiman
(1667-1694 M)
16.
Husen
(1694-1722 M)
17.
Tahmasp
II (1722-1732 M)
18.
Abbas
III (1732-1736 M)
c.
Perkembangan Kerajaan Safawi
Di bawah pimpinan
Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash (Baret Merah) menyerang dan
mengalahkan Ak-Koyunlu di Sharur, dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha
memasuki dan menakhlukkan Tabriz, Ibu Kota Ak-Koyunlu dan berhasil merebut serta
mendudukinya. Di kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama
Dinasti Syafawi. Ia disebut juga Ismail I.
Ismail I berkuasa
sekitar 23 tahun (1501-1524 M). Pada sepuluh tahun
pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Ia dapat menghancurkan
sisa-sisa kekuasaan Ak-Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi kaspia
si Nazandaran, Gurgan dan Yazd (1505-1507 M) Baghdad dan daerah barat daya
Persia (1508 M), Sirwan (1509 M), dan Khurasan (1510 M). Hanya dalam waktu
sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian
timur Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).
Peperangan dengan Turki
Utsmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran,
dekat Tabriz. Karena keunggulan organisasi militer kerajaan Utsmani, dalam
peperangan ini Ismail l mengalami kekalahan,
malah Turki Utsmani di bawah pimpinan Sultan Salim dapat menduduki Tabriz.
Kerajaan Syafawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan Utsmani ke Turki karena
terjadi perpecahan dikalangan militer Turki di negerinya.
Rasa permusuhan dengan
kerajaan Utsmani terus berlangsung sepeninggal Ismail. Peperangan antara dua
kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp
I (1524 - 1576 M), Ismail II (1576 - 1577 M) dan Muhammad Khudabanda (1577 -
15873 M). Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan Syafawi dalam keadaan lemah.
Disamping karena sering terjadi peperangan melawan kerajaan
Utsmani yang lebih kuat, juga karena sering terjasi
pertentangan antara kelompok-kelompok di dalam negeri.
Kondisi memprihatinkan
ini baru bisa diatasi setelah raja Syafawi kelima, yaituAbbas I naik tahta (1588
- 1628 M). Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I untuk memulihkan politik
kerajaan Syafawi adalah sebagai berikut:
Pertama,
mengurangi dominasi pasukan Qizilbash denan cara membentuk pasukan baru yang
direkrut dari budak tawanan peran bangsa Georgia, Armenia, Sircassia. Kedua,
mengadakan perjanjian damai dengan Turki Utsmani, yaitu ia rela melepaskan
wilayah Azerbaijan, Georgia, dan sebagian wilayah lainnya. Dia juga berjanji
tidak akan menghina Abu Bakar, Umar, Utsman. Sebagai jaminan atas perjanjian
itu, ia menyerahkan saudara sepupunya Haidar Mirza sebagai sandera di Istanbul.
Langkah-langkah
yang dilakukan Abbas l tersebut berhasil membuat kerajaan Safawi menjadi kuat
kembali. Ia kembali melirik wilayah-wilayahya dulu yang sempat lepas. Kemudian
Abbas l menyusun kembali kekuatan militer yang kuat. Setelah kekuatan
militer terbina dengan baik, ia berusaha merebut kembali wilayah kekuasaannya
dari Turki Utsmani. Pada tahun 1602 M, disaat Tuki Utsmani berada dibawah
kepemimpinan Sultan Muhammad ll, Abbas l menyerang dan berhasil menguasai
Tabriz, Sirwan, dan Baghdad. Sedangkan kota-kota Nakchivan, Erivan, Ganja, dan
Tiflis dapat dikuasai tahun 1605-1606 M. Selanjutnya pada tahun 1622 M pasukan
Abbas l berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumrun menjadi
pelabuhan Bandar Abbas.
d.
Kemajuan Kerajaan Safawi
1.
Bidang Ekonomi
Bukti nyata perkembangan perekonomian Safawi adalah dikuasainya
kepulauan hurmuz dan pelabuhan Gumrun kemudian diubah menjadi Bandar Abbas pada
masa Abbas l. Maka salah satu jalur dagang yang menghubungkan antara timur dan
berat sepeenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi. Selain
itu kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sector pertanian terutama di
daerah Buan Sabit Subur (fortile crescent).
2.
Bidang Ilmu Pengetahuan, filsafat, dan sains
Dalam sejarah Islam, bangsa Persia dikenal sebagai bangsa
yang peradaban tinggi dan berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh
karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa Kerajaan Safawi tradisi
keilmuan ini terus berlanjut.
Ada beberapa ilmuwan yang selalu hadir di majlis istana
yaitu Baha Al-Din Al-Syaerazi (generalis iptek), Sadar Al-Din Al-Syaerazi
(filosof), dan Muhammad Baqir bin Muhammad Damad (teolog, filosof, observatory
kehidupan lebah-lebah).[11] Dalam
bidang ilmu pengetahuan, Safawi lebih mengalami kemajuan dari pada kerajaan
Mughal dan Turki Usmani.[12] Pada
masa Safawi Filsafat dan Sains bangkit kembali di dunia Islam, khususnya
dikalangan orang-orang persia yang berminat tinggi pada perkembangan
kebudayaan. Perkembangan baru ini erat kaitannya dengan aliran Syiah yang
ditetapkan Dinasti Safawi sebagai agama resmi Negara.
Dalam Syiah Dua Belas ada dua golongan, yakni Akhbari dan
Ushui. Mereka berbeda didalam memahami ajaran agama. Yang pertama cenderung
berpegang kepada hasil ijtihad para mujtahid Syiah yang sudah mapan. Sedang
kedua mengambil dari sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan Hadits, tanpa terikat
kepada para mujthadi. Golongan Ushuli inilah yang palling berperan pada masa
Safawi.
Menurut Hodhson, ada dua aliran filsafat yang berkembang
pada masa Safawi tersebut. Pertama, aliran filsafat “Perifatetik” sebagaimana
yang dikemukakan oleh Aristoteles dan Al-Farabi. Kedua filsafat Isyraqi yang
dibawa oleh Syaharawadi pada abad ke XII. Kedua aliran ini banyak dikembangkan
di perguruan Isfahan dan Syiraj. Di bidang filosof ini muncul beberapa orang filosof
diantaranya Muhammad Baqir Damad (W. 1631 M) yang dianggap guru ketiga sesudah
Aristoteles dan Al-Farabi, tokoh lainnya misalnya Mulla Shadra yang menurut
sejarah ia adalah seorang dialektikus yang paling cakap di zamannya[13].
3.
Bidang seni dan pembangunan
fisik
Kemajuan seni arsitektur
ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah ibukota
kerajaan ini. Sejumlah sekolah, masjid, rumah sakit, jembatanyang memanjang
diatas Zenderud dan istana Chihisutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan
kebun wisata.
4.
Bidang Politik
Pengertian kemajuan dibidang politik disini adalah
terwujudnya integritas wilayah Negara yang luas yang dikawal oleh suatu
angkatan bersenjata yang tangguh dan diatur oleh suatu pemerintahan yang kuat,
serta mampu memainkan peranan dalam percaturan politik internasional.
Sebagaimana lazimnya kekuatan politik suatu Negara
ditentukan oleh kekuatan angkatan bersenjata, Syah Abbas I juga telah melakukan
langkah politiknya yang pertama, membangun angkatan bersenjata dinasti Safawi
yang kuat, besar dan modern. Tentara Qizilbash yang pernah menjadi tulang
punggung Dinasti Safawi pada awalnya dipandang Syah Abbas tidak diharapkan
lagi, sehingga ia membangun suatu angkatan bersenjata reguler. Inti
satuan militer ini ia ambil dari bekas tawanan perang bekas orang-orang
Kristern di Georia dan di Chircassia. Mereka dibina dengan pendidikan militer
yang militan dan persenjataan yang modern. Sebagai pimpinannya ia mengangkat
Allahwardi Khan, salah seorang dari Ghulam.[14]
Berkat kegigihannya Syah Abbas mampu mengatasi kemelut di
dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan berhasil merebut
wilayah-wilayah yang pernah disebut oleh kerajaan lain pada masa sebelumnya.
e.
Kemunduran
Kerajaan Safawi
Sepeninggal Abbas I,
kerajaan Syafawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yang pada masa
raja-raja tersebut kondisi kerajaan Syafawi tidak menunjukkan grafik naik dan
berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa
kepada kehancuran.
Penyebab kemunduran dan kehancuran kerajaan
Syafawi adalah:
·
Konflik berkepanjangan dengan kerajaan
Utsmani
·
Dekadensi moral yang melanda sebagian para
pemimpin kerajaan Syafawi
·
Pasukan Ghulam yang dibentuk Abbas I tidak
memiliki semangat perang tinggi seperti Qizilblash
·
Seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk
perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.
C. KERAJAAN MUGHAL DI INDIA
a.
Sejarah Singkat Kerajaan
Kerajaan
Mughol berdiri seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan safawi. Kerajaan ini
termasuk dari tiga kerajaan besar Islam dan kerajaan inilah termuda. Awal
kekuasaan Islam di India terjadi pada masa khalifah Al-walid dari Dinasti Bani
Umayah, di bawah pimpinan Muhammad Ibnu Qosim.
Kerajaan
Mughol di India dengan Delhi sebagai ibu kotanya, di dirikan oleh Zahirrudin
Babur ( 1482-1530 M ) salah satu dari cucu Timur lenk. Ayahnya bernama Umar
Mirza, penguasa Ferghana. Babaur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya
pada Usia 11 tahun. Karena dari kecil di didik sebagai seorang panglima, ia
bertekad dan berambisi akan menaklukan kota terpenting di Asia Tengah yaitu
Samarkand. Pada mulanya Babur mengalami kekalahan, tetapi karena mendapat
bantuan dari Raja Safawi kala itu yaitu Ismail I, akhirnya berhasil menaklukan
Samarkand (1494 M). Pada tahun 1504 M, ia menduduki Kabul
(Afganistan). Babur juga mampu menguasai Punjab (1525 M), kemudian
menguasai Delhi setelah bertempur di Panipat sebagai pemenang. Dengan demikian,
Babur dapat menegakkan pemerintahannya di sana, maka berdirilah kerajaan Mughol
di India(1525M).[15]
b.
Sultan-sultan yang
pernah berkuasa
1. Zahiruddin Muhammad
Babur (1526-1530)
2. Humayun (1530-1556)
3. Akbar (1556-1605)
4. Jahangir (1605-1627)
5. Syah Jihan
(1628¬-1658)
6. Aurangzeb (1658-1707)
7. Bahadur Syah
(1707-1712)
8. Jehandar (1712-1713)
9. Fahrukhsiyar (1713-1719)
10. Muhammad Syah (1719-1748)
11. Ahmad Syah (1748-1754)
12. Alamghir II (1754-1760)
13. Syah Alam (1760¬-1806)
14. Akbar II (1806-1837 M),
15. Bahadur Syah (1837-1858).
c.
Perkembangan
Kerajaan Mughal
Sepeninggalan
babur tahun 1530 M, tahta kerajaan Mughal diteruskan oleh anaknya yang bernama
Humayun. Walaupun Babur telah berhasil menegakkan Mughal dari serangan musuh,
namun Humayun tetap saja menghadapi tantangan. Selama roda kepemimpinannya,
kondisi pemerintahan tidak pernah stabil. Selain banyak menghadapi peperangan,
ia harus menghadapi gerakan pemberontakan Bahadur Syah penguasa Gujarat
dan pertempuran besar dengan Sher Khan di Kanauj pada tahun 1540 M. dan
pada tahun 1556 M, Humayun meninggal dunia.
Selanjutnya Humayun
digantikan anaknya yaitu Akbar yang berusia 14 tahun, karena ia masih muda maka
urusan kekeuasaan diserahkan pada Bairam Khan, seorang Syi’i. Pada masa Akbar
inilah kerajaan Mughal mencapai keemasannya.
Setelah Akbar dewasa,
Akbar berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat
kuat dan terlampau memaksakan aliran Syi’ah. Dan
bairam mengarakan pemberontakan pada tahun 1561 M, tetapi tetap bisa dikalahkan
oleh Akbar.
Keberhasilan ekspansi
militer Akbar menandai berdirinya Mughal sebagai kerajaan yang besar, karena
dua gerbang India yaitu Abul dan kota kandahar dikuasai oleh Akbar. Kemajuan
yang telah dicapai oleh Akbar dapat dipertahankan oleh tiga sultan berikutnya,
yaitu Jhangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M) dan Aurangzeb (1658-1707
M). Ketiganya merupakan raja-raja besar Mughal yang didukung oleh kekuatan
militer yang sangat besar.
d.
Kemajuan
Kerajaan Mughal
1. Bidang Ekonomi
Kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian,
pertambangan, dan perdagangan. Di sektor pertanian, komunikasi antara
pemerintah dan petani diatur dengan baik. Hasil pertanian yang terpenting
adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau,
kapas, nila, dan bahan-bahan celupan.
2. Bidang Seni
· Karya seni yang menonjol
adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun
India. Penyair yang terkenal adalah Malik
Muhammad Jayazi.
· Karya-karya arsitektur
yang indah dan mengagumkan antara lain:
Ø Istana Fatpur Sikri di
Sikri, Cila dan Masjid-masjid yang indah pada masa Akbar
Ø Taj Mahal di Agra,
Masjid Raya Delhi dan Istana Indah di Lahore pada masa Syah Jehan.
3. Bidang Ilmu Pengetahuan
Pada masa Shah Jehan didirikan sebuah perguruan tinggi di Delhi.
Jumlah ini semakin bertambah ketika pemerintahan dipegang oleh Aurangzeb.
Dibidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan
sebutan Fatawa –i-Alamgiri.
4.
Bidang Politik dan
Administrasi Kepemerintahan
1. Perluasan
wilayah. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar,
Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala,
Ahmadnagar, dan Asirgah. dan konsolidasi kekuatan. Usaha ini berlangsung hingga
masa pemerintahan Aurangzeb.
2. Menjalankan
roda pemerintahan secara, pemerintahan militeristik.
3. Akbar menerapkan politik toleransi universal (sulakhul).
Dengan politik ini, semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan
karena perbedaan etnis dan agama. Politik ini dinilai sebagai model toleransi
yang pernah dipraktekkan oleh penguasa Islam.
5. Agama
1. Pada masa Akbar,
perkembangan agama Islam di Kerajaan Mughal mencapai suatu fase yang menarik,
di mana pada masa itu Akbar memproklamasikan sebuah cara baru dalam beragama,
yaitu konsep Din-i-Ilahi
2. Perbedaan kasta di
India membawa keuntungan terhadap pengembangan Islam, seperti pada daerah
Benggal, Islam langsung disambut dengan tangan terbuka oleh penduduk terutama
dari kasta rendah yang merasa disia-siakan dan dikutuk oleh golongan Arya Hindu
yang angkuh.
3. Berkembangnya
aliran keagamaan Islam di India. Sebelum dinasti Mughal, muslim India adalah
penganut Sunni fanatik. Tetapi penguasa Mughal memberi tempat bagi Syi’ah untuk
mengembangkan pengaruhnya.
4. Pada masa ini juga
dibentuk sejumlah badan keagamaan berdasarkan persekutuan terhadap mazhab
hukum, tariqat Sufi, persekutuan terhadap ajaran Syaikh, ulama, dan wali
individual. Mereka terdiri dari warga Sunni dan Syi’i.
e.
Kemunduran
Kerajaan Mughal
Ada beberapa factor yang
menyebabkan kekuasaan dinasti mughal itu mundur pada satu setengah abad
terakhir dan membawa kepada kehancuran pada tahun 1858 M. Adapun faktor-faktor
tersebut adalah:
1.
Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan
militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat
segera dipantau oleh kekuatan maritime Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan
darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan Mughal
sendiri.
2.
Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan
elit politik yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang Negara.
3.
Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar”
dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga
konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
4.
Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir
adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Kerajaan Utsmani
berasal dari suku bangsa pengembara Qoyigh Oghuz, beribukota di Syukud. Pada
tahun 1300 M, Kerajaan Utsmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah
Utsman yang sering disebut Utsman I. Dinasti Utsmani berkuasa kurang lebih
selama tujuh abad, dengan sekitar 36 sultan selama kekuasaannya. Pasukan
Janissary bentukan Orkhan yang terkenal tangguh merupakan pasukan pertama yang
berhasil menaklukkan beberapa wilayah sehingga daerah kekuasaan Utsmani semakin
luas. Peradaban yang dihasilkan meliputi bidang militer, pemerintahan, ilmu
pengetahun dan budaya. Kemunduran Utsmani dimulai ketika wafatnya sultan Sulaiman
al-Qoruni tahun 1566 M.
2. Kerajaan
Syafawi berdiri sejak 1503-1722 M. Kerajaan Syafawi berasal dari sebuah gerakan
tarekat Syafawiyah, yang didirikan di Ardabil. Nama Syafawiyah diambil dari
nama pendirinya, Syafi al-Din. Nama Syafawi itu terus dipertahankan sampai
tarekat ini menjadi gerakan politik, bahkan hingga gerakan ini berhasil
mendirikan kerajaan. Hasil peradaban kerajaan Syafawi meliputi bidang ekonomi,
ilmu pengetahuan, bagunan fisik dan seni. Kemunduran Syafawi berturut-turut sepeninggal
Abbas I.
3. Kerajaan
Mughal didirikan oleh Zahirudin Babur (1526 - 1530 M). dan Peradaban yang
diukir oleh kerajaan Mughal yakni pada bidang ekonomi, seni, dan ilmu
pengetahuan. Kemunduran Kerajaan Mughal disebabkan karena terjadi strategi dalam
pembinaan kekuatan, kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik,
pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-idenya,
semua pewaris tahta kerajaan adalah orang yang lemah dalam bidang kepemimpinan.
[1]
Kabilah yang menurunkan bangsa Turki Ustmani yang berasal dari sebelah
utara Tiongkok kemudian pindah ke daerah Turkistan.
[3]
A. Jamil, BA dkk. “SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM”, CV. TOHA PUTRA SEMARANG 1981, hlm.
108-109.
[4]
PROF. DR. HARUN NASUTION, “ISLAM DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEK” JILID
I”, Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 2011, hlm. 84
[6]
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,
Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2000,hlm. 138
[7]
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Bebagai Aspek,
Jakarta: UI-Press, 1985, hlm. 84
[8]
Hamka, Sejarah Umat Islam, Jilid III, Jakarta:
bulan Bintang, 1981, hlm. 60
[9]
Samsul Munir Amin, M.A., Sejarah Peradaban Islam,
Jakarta : Amzah, 2009, hal 188
[10]
Yaitu tentara kerajaan Safawi yang berasal dari suku-suku
beraliran Syi’ah dari Anatolia bagian timur. Pada pasukan Qizilbash ini
topinya dilengkapi dengan 12 rumbai yang memiliki makna Syi’ah, Isna ‘Asyariah
(Dua Belas Imam) mempunyai pengaruh yang besar dalam menanamkan sifat fanatisme
dan militansi para pengikut Syi’ah dengan pemimpinnya.
[12]
Ajid Thohir, hal. 177
[13]
Ibid.
[14]
Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia
Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo) hal. 175
[15]
PROF. DR. HARUN NASUTION, “ISLAM DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEK” JILID I”, Penerbit Universitas
Indonesia (UI-Press), 2011, hlm. 82